Muhammad Sawaluddin
  • Home
  • Artikel
  • Media
  • Desain
  • About Me
  • Contact
    • Link 2
    • Link 3

Suatu waktu waktu pada tahun 2014 lalu menghadiri pementasan drama di Benteng Rotterdam Makassar. Waktu itu berlangsung beberapa hari dengan berbagai kegiatan termasuk pameran buku di siang hari dan pementasan seni pada malam hari. Dua acara yang berkesinambungan yakni pementasan drama yang berkisah tentang Pangeran Diponegoro yang pada saat itu juga launching buku yang berjudul Takdir tentang Riwayat Hidup Pangeran Diponegoro. Pementasan drama yang tampil sebagai narator adalah Landung Simatupang yang memang lebih banyak menampilkan pementasan tokoh ini, bahkan salah satu keturunan Pangeran Diponegoro turut terlibat dalam pementasan tersebut. Drama tersebut diberi judul Aku Diponegoro yang diadaptasi dari buku Kuasa Ramalan karya Peter Carey dan Babad Diponegoro. Pada siang harinya ada pameran buku termasuk peluncuran buku berjudul Takdir yang merupakan versi ringkasan dari Kuasa Ramalan yang terdiri dari tiga jilid. Launching buku tersebut dihadiri langsung oleh penulisnya yakni Peter Carey. 

Secara pribadi, tokoh seperti Pangeran Diponegoro hanya tahu namanya dan termasuk pahlawan nasional. Soal siapa, silsilah dan seperti apa perjuangannya belum sampai mengerti. Walaupun sebelumnya pernah studi banding pada tahun 2010 saat tamat MTs dan salah satu agendanya dengan mengunjungi situs sejarah. Waktu itu kita berkunjung ke tempat yang dikemudian hari saya tahu menjadi tempat pengasingan Pageran Diponegoro. Pementasan drama tersebutlah yang akhirnya menjadi titik awal tahu dan mengerti sosok Pangeran Diponegoro. Sang narator memulai berkisah masa kecil sang tokoh yang ternyata mempunyai nama Raden Mas Mustahar sebagai nama kecilnya. Hingga suatu saat Pengeran Diponegoro kecil dibawah dihadapan kakek buyutnya dan kakeknya berkata dengan nada ramalan bahwa cucunya kelak akan menjadi tokoh besar. Konsep drama ini sang narator berganti sesuai pembabakan ceritanya. Tokoh yang memerankan Diponegoro kecil berkisah bahwa saat umur umur 7 tahun ia diberi nama Raden Mas Ontowiryo oleh kerajayaan. Saat itupula ia meninggalkan kerajaan menuju Desa Tegalrejo. Di Tegalrejo inilah ia diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng yang kelak berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian sang tokoh. 

Narator berkisah penuh khidmad dengan diiringi musik yang dihasilkan dari gamelan. Suasana panggung yang didesain dengan beberapa instrumen termasuk Wayang. Tentu saja pada saat itu, Wayang bukan menjadi instrumen inti dalam pementasan karena memang konsepnya pementasan drama. Akan tetapi, aspek seni dan kebudayaan sangat mewarnai pementasan tersebut. Peristiwa pada akhirnya berkorelasi kuat dengan ketokohan Pangerang Diponegoro. Kita tahu dalam berbagai penceritaan yang tertuang dalam buku menunjukkan sosok perlawanan terhadap penjajahan ini sangat kuat dengan hal-hal mistik.

Penampilan drama yang berlangsung kurang lebih dua jam itu jelas tidak bisa menggambarkan perjalanan hidup Pangeran Diponegoro secara utuh. Akan tetapi jelas memberikan pembabakan sekilas tentang sosoknya yang menjadi pintu masuk untuk mengerti lebih jauh bahkan menjadi salah satu sudut pandang melihat perlawanan terhadap kolonialisme pada waktu itu. Dari kisah tersebut akhirnya berkenalan langsung dengan buku yang mengulas tentang perjuangannya. Peter Carey sang penulis kisah Pangeran Diponegoro yang awalnya menulis buku Kuasa Ramalan kemudian diringkasnya dalam buku Takdir. Belakangan ini ada buku yang sangat menarik juga yang berjudul Jejaring Ulama Diponegoro kolaborasi Santri dan Kesatri membangun Islam Kebangsaan yang ditulis oleh Zainul Milal Bizawie. Dalam buku tersebut tergambar bagaimana keharmonisan yang terjalin antara agama dan negara pada diri Diponegoro. Dapat terpahami pula bahwa sosoknya yang religius sebagaimana yang tergambarkan dari kisahnya belajar dari pesantren ke pesantren, menyusuri gua melakukan pertapaan. Belum lagi dengan keterkaitannya dengan Kiai Mojo sebagai penasehatnya terutama pada masa-masa perlawanan melawan penjajahan. Walaupun usahanya tidak begitu berhasil yang berujung pada penjarah, tetapi efek yang yang ditimbulkannya sangat berarti terutama kerugian yang dialami oleh VOC pada masa perang 1825-1830. Pangeran Diponegoro begitu kagum dengan sastra yang salah satu buktinya dengan kemampuannya menulis otobiografinya yang diberi judul Babad Diponegoro. Beragam tema yang ia baca termasuk tema mistik Islam seperti tasawuf. Ia pun juga menyukai kesenian seperti wayang hingga mempunyai Keris kasayangan. Pageran juga akrab dengan kisah-kisah lakon wayang Jawa dan dalam otobiografinya membuat sejumlah perumpamaan atas tokoh-tokoh dari dunia pewayangan ini. (Carey, 2014 : 32). 

Sebelum masa perang, Pageran Diponegoro banyak mengunjungi pesantren untuk belajar agama. Sebagai santri kelana, Ia banyak beriteraksi dengan banyak Kiai hingga fase selanjutnya mulai menyepi, mengambil jarak dari keramaian kemudian melakukan meditasi atau pertapaan. Salah satu momen menyendiri tersebut, ia bertemu dengan sosok Sunan Kalijaga salah satu generasi Walisongo. Pertemuan ini tidak hanya menjadi isyarat mengenai dorongan perlawanan terhadap penjajahan, tetapi berkolasi kuat dengan silsilahnya.

Sunan Kalijaga yang mempunyai nama Raden Sahid dikenal metode dakwahnya menggunakan pendekatan seni dan budaya. Ia bahkan pencipta wayang kulit yang dikenal hingga sekarang dan menggunakan cerita pewayangan dalam mendakwahkan Islam. KH. Agus Sunyoto menyebutkan dalam bukunya Atlas Walisongo bahwa Sunan Kalijaga yang akhirnya mereformasi pewayangan tersebut. Sang Wali yang menikah dengan adik dari Sunan Gunung Jati ini yakni Sitti Zaenab mengambil wayang dari lakon Dewa Ruci. Lakon tersebut diadaptasi menjadi kisah perjalanan tasawuf dari tokoh Bima.

Dari Sunan Kalijaga akhirnya bisa dipetik pelajaran penting betapa berpengaruhnya metode seni dan budaya dalam menyebarkan agama Islam. Wayang pun menjadi pintu masuk untuk menelusuri ketersambungan Pageran Diponegoro yang tidak hanya biologis, tetapi juga cara pandang tentang keagamaan, budaya hingga kebangsaan. Seni jugalah yang membuat mereka bisa menemukan cara yang tepat menyampaikan gagasan sekaligus penanaman nilai-nilai.

Seni ataupun satra sangat berperan penting dalam menyampaikan sesuatu dan menyenangkan. Betapa sekelumit cerita diatas, bagaimana pementasan drama mampu menarik perhatian untuk lebih mengenal lebih jauh seorang tokoh. Jika mengacu pada aspek fungsional, maka hal semacam ini sama ketika seorang pendidik yang menggunakan metodologi tertentu agar mempermudah penyampaian materi hingga disetting dengan suasana yang menyenangkan. Seni salah satu hal universal dalam hidup yang hampir semua lini kehidupan mempunyai sisi keseniannya. Alam semesta yang selama ini ditangan saintis penuh rumus-rumus matematik seperti penemuan geometris, tetapi hasil temuan itu berujung pada seni. Sifat keteraturan antar berbagai unsur alam adalah keindahan dan harmoni. Walau terdapat perbedaan aliran dalam seni, tetapi hampir semua menyepakati arti penting seni. Muhammad Iqbal salah satu filosof yang lahir di Lahore tidak menyepakati prinsip "seni untuk seni". Dalam arti tidak sepaham dengan pandangan seni untuk keindahan, harmoni dan semacamnya. Ia punya pandangan bahwa seni seharusnya punya  nilai fungsional yang mampu menggerakkan emosi. Seni yang tidak menstimulus ego atau membangkitkan semangat baginya tidak bisa disebut seni. Ada sebuah kisah dari seorang penyair pada masa Rasulullah Saw. yang tentu saja gemar membuat syair. Imam Al-Bushiri dikemudian hari dikenal dengan sayyidul maddah berkat syair-syairnya yang luar biasa. Suatu waktu ia sakit dan mengarang syair berupa pujian terhadap Nabi. Puisi yang dibuatnya ini mengantarkannya mimpi bertemu Nabi hingga terbangun terdapat jubah pemberian dari Rasulullah Saw. Dari kecintaan mengarang syair mengantarkannya mendapat syafa'at Nabi yang nantinya syair dicantumkan dalam kitab al-Barzanji. Atau bagaimana ketika Jalaludin Rumi mengalami kesedihan saat kematian guru spiritualnya. Pada masa itu, ia menari berlawanan arah jarum jam yang dikemudian hari disebut tari sufi.


Tabe'

Salama'ki Topada Salama'

*Penulis merupakan Alumni Pondok Pesantren Daarul Mu'minin As'adiyah

Narasi-narasi, imajinasi atau bahkan fenomena yang menjadi refleksi, puitis mengenai perasaan dll tersimpan kemungkinan-kemungkinan. Ungkapan bagi seseorang mengimajinasikan, merefleksikan atau bahkan mengungkapkan perasaan mengenai apa yang dirasakan, dialami atau semacam ungkapan perasaan ntah itu berupa cinta, benci atau mengenai hidup dan kehidupan. Suatu hal yang hegemonik bisa dikatakan demikian ketika merefleksikan mengenai hidup dengan rujukan imajinasi mengenai samudra, laut, salju sementara si pribadi berada pada kehidupan, kenyataan alam yang menawarkan lingkungan pertanian, sawah, kebun dll atau sebaliknya.

Burung yang beterbangan bisa jadi berkabar pada manusia dengan nada nasehat. Tidak bisakah engkau mengapresiasi alam yang kau pandangi, rasakan getarannya, tempat terjadinya sirkulasi. Bisa jadi juga si Burung ini bernyanyi dengan nyanyian yang berkisah tentang kemesraan burung Bangau dengan Kerbau. Nostalgia nya tentang Bangau dengan Kerbau bersama pak Tani menggarap sawah. Barangkali juga ia merindukan suara suling bambu yang merdu nan indah dari suling legendarisnya pak Tani.

Mungkin pula pengembaraan subjek yang materi itu juga telah banyak berpetualang menyaksikan realitas objektif yang direfleksikan itu atau kekuatan imajinasinya yang tidak percaya pada kondisi ril dimana ia hidup, ia bahkan menyakini ada dunia lain yang oleh karenanya mengimajinasikan lingkungan, alam bahkan ada dunia diluar dunia dimana kakinya berpijak, matanya memandang dan perasaannya merasa.

Sebagaimana cerita sekelompok burung yang mengelilingi semesta untuk mencari seekor burung mitologi yang bernama Simurgh. Dalam kelompok ini terdapat tigah puluh burung yang terus mencari apa yang dicarinya sampai menyusuri semesta sampai mereka harus mengambil resiko menyelam ke kedalaman laut. Dalam pencarian mereka, selalu terjadi percakapan dan berdialog serta seolah melakukan perenungan mengenai yang dicarinya. Hingga sampai pada suatu titik dimana mereka mendapati sebuah kabar yang cukup samar seperti berita itu datang dari diri mereka sendiri. Mereka sampai pada keadaan dan menyadari bahwa apa yang selama ini mereka cari tidak lain adalah diri mereka sendiri.

Si Subjek ini terus berimajinasi hingga kembali memandangi dirinya sebagai manusia yang sedang berdiri ditengah hamparan pepohonan dengan buahnya yang segar disinari cahaya matahari. Hingga terdengar bisikan seolah bercerita kepadanya. Terdengar narasi berupa kisah tentang suatu kampung yang penduduknya makmur dan hidup penuh damai. Salah satu pembabakan cerita itu berkisah tentang penduduk yang menanam padi di sawah secara bersama-sama. Dengan secangkir kopi yang harum ditangannya, si narator bercerita tentang kebersamaan penduduk kampung sangat erat dalam suasana gotong royong saat panen. Ia bahkan merindukan suasana bahagia penduduk kampung yang dirayakan bersama seraya berterima kasih pada sang Maha kuasa.
Kata dalam Grafis





Suatu wacana, konsep ataupun gagasan pada awalnya akan terjadi diskursus. Diskursus terjadi dalam kaitannya untuk memperjelas kekaburan. Islam Nusantara akhir-akhir ini menjadi pembicaraan dikalangan masyarakat maupun akademisi. Yang terjadi dipermukaan adalah perdebatan sisi linguistik mengenai istilah Islam Nusantara. Sebagai sebuah istilah memang kadangkala terjadi perdebatan panjang jika tidak dilihat sisi definisi maupun substansinya. Banyak persoalan terjadi perdebatan panjang karena sesuatu dilihat dari aspek yang tampak atau kata tanpa melihat sisi maknanya. 

Islam Nusantara 
Istilah Islam Nusantara diperbincangkan secara massif ditahun 2015 lalu yang kalau ditelusuri sebenarnya suatu wacana lama sejak reformasi. Bahkan kalau ditelusuri dalam naskah-naskah abad ke 18 ternyata ditemukan istilah "Din Arab Jawi". Din Arab Jawi inilah dipahami sebagai istilah Islam Nusantara karena ulama-ulama dari Nusantara pada waktu itu sering disebut al-Jawi untuk sebutan asal ulama dari nusantara dan istilah Arab adalah Islam.

Dalam memahami Islam Nusantara dapat dipakai berbagai sudut pandang atau tinjauan antara lain sosial, budaya, antropologis, filosofis dan kebahasaan. Kalau dari sisi kebahasaan bahwa Islam Nusantara sebagai susunan Idhafah yang punya tiga kemungkinan makna yaitu bermakna "fi", terdapat hurur "ba" dan "lam".  Islam Nusantara dipahami sebagai Islam di Indonesia. Islam yang berkembang, diamalkan dan yang hadir di Indonesia atau Islam mengejawantahkan di bumi Nusantara. Jika dipahami sebagai istilah bahasa Indonesia, Islam Nusantara sebagai frase juga dipahami sebagai kekhasan tanpa ada konjungsi "di" diantaranya dan sama sekali tidak ada masalah kalau dilihat dan dipahami definisi Islam Nusantara. 

Islam Nusantara sebagai bagian dari kontekstualisasi Islam. Bahwa Islam bisa hidup dan berkembang disetiap waktu dan tempat dengan karakteristik masing-masing setiap geografis. KH. Ahmad Baso dalam bukunya Islam Nusantara menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbat tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan wilayah, teritori, kondisi alam dan cara pengamatannya penduduk kita". Sebagai contoh, istilah "Halal bi Halal" merupakan yang khas di Indonesia. Dicari di Arab ataupun kamus bahasa Arab tidak ditemukan, karena memang istilah khas yang dibuat oleh ulama-ulama Nusantara untuk sikap atau aktifitas bersosial setelah melaksanakan hari raya.

Diluar wacana dan konsep, Islam Nusantara sebenarnya telah hadir sebagai fakta historis yaitu dalam laku diri masyarakat Nusantara/Indonesia. Kalau Islam dipandang sebagai sosial, pendidikan, keagamaan maka di Nusantara institusi Pesantren sebagai ciri khas institusi pendidikan Islam Nusantara. Sebagaimana Islam Nusantara yang coraknya toleran, sejuk dan damai, Pesantren demikian halnya. Karakter tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis Nusantara yang sejuk juga karakter tasawwuf yang melekat pada Pesantren. Martin Van Bruinessen yang mengkaji persoalan ini punya kesimpulan kuat mengenai keterkaitan Pesantren dengan Tasawwuf didalam bukunya "Kitab Kuning, Tarekat dan Pesantren".

Yang pertama bahwa Islam Nusantara bukan ajaran baru. Islam sebagai agama dan ajaran tetap tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya. Ajaran pokok Islam dan yang jelas qath'i tetap mulia dan tidak diotak-atik sama sekali. Islam Nusantara dalam konteksnya untuk merealisasikan "Islam sesuai waktu dan tempat". Artinya upaya mennghidupakan Islam sesuai teritori, kondisi alam dan waktu.

Islam Nusantara tidak mereduksi ajaran Islam dan sama sekali tidak anti Arab dll. Sama sekali tidak memutus mata rantai historis, nyatanya ulama Nusantara pernah menjadi rujukan dan mendirikan madrasah yang bernama Darul Ulum di Mekkah pada abad 18. Hanya saja ada suatu yang khas di wilayah pengamalannya dan kebudayaan. Sebagai perbandingan misalnya Abid al-Jabiri memunculkan istilah Nalar Arab atau kadangkala Arab Islam. Kalau sepintas lalu, istilah ini juga mereduksi Islam yang seolah Islam hanya di Arab. Setelah dikaji kenyataannya tidak demikian, justru adanya suatu yang khas disetiap kebudayaan. 

Setiap letak geografis dan budaya punya kekhasan masing-masing. Al-Jabiri sendiri berpandangan adanya kekhasan setiap budaya, Arab punya kekhasan, Eropa punya ciri khas, begitupula Nusantara punya kekhasan tersendiri. Dengan demikian pemikiran Islam Nusantara bukan semata konsep dan pandangan yang mencerminkan realitas Nusantara, tetapi juga ia adalah produk dan model berpikir yang dibentuk oleh realitas Nusantara. Terdapat pula kaidah “etnisitas kultural” bahwa seorang pemikir tidak tergolon kedalam suatu kebudayaan tertentu kecuali jika ia berpikir dalam kebudayaan tersebut. Berpikir melalui suatu kebudayaan tertentu artinya berpikir melalui system referensial yang membentuk koordinat-koordinat dasarnya yakni factor-faktor penentu dan pembentuk kebudayaan ini berupa warisan kultural, lingkungan sosial, cara pandang terhadap alam, dunia dan manusia. (Abid al-Jabiri, 2014; 25)

Mengenai pemikiran Abid al-Jabiri tentang kekhasan budaya baca:

Kekhasan Nalar Kebudayaan


Tidak hanya itu, Imam Syafi'i memberikan isyarat betapa pentingnya memahami dan mempertimbangkan kondisi geografis. "Kata beliau: 'Ma min biladil-muslimina baladun Illa wa-fihi 'ilmun qad shara ahluhu ila 'ttiba'i qauli rajulin min ahlihi fi aktsari aqawalihi'. Artinya, disetiap negeri umat Islam itu ada ilmu yang dijalani dan diikuti oleh penduduknya, dan ilmu itu kemudian menjadi pegangan para ulamanya dalam kebanyakan pendapatnya."  (Ahmad Baso, 2015; 7)

Kekhasan tersebut beserta tokoh-tokohnya misalnya tercermin dari metode dakwah Wali Songo yang penuh perdamaian tanpa ada pertumpahan darah. Metode dakwah yang melihat serta penyesuaian kondisi waktu dan tempat. Cara persuasif para Wali Songo dalam dakwahnya melalui pendekatan budaya serta tasawwuf dinilai sangat berhasil menyentuh dan mengenalkan Islam pada masyarakat Nusantara.

Islam Nusantara juga sebagai wacana poskolonial. Ketika masa kolonial begitu gencarnya, disaat itu pula banyak hal yang tergerus dinegeri ini termasuk soal identitas dan kebudayaan. Walaupun masih ada perdebatan soal istilah poskolonial, yang jelas identitas, budaya kita perlu di perhatikan dan dihadirkan kembali. Islam Nusantara hadir sebagai wacana dan konsep dalam menjawab persoalan tersebut dalam meneguhkan kembali kebangsaan dan keagamaan serta tradisi kita. Kalau dilihat dari sikap hidup dan laku diri, karakter yang ditunjukkan oleh para ulama dan kaum santri adalah melawan kolonialisme.

Bersamaan hal tersebut, Islam Nusantara juga hadir merespon modernitas dan globasasi. Di wilayah ini Islam Nusantara ingin meneguhkan kembali identitas, budaya dan tradisi kita namun tetap pada wilayah merespon masa depan. Islam Nusantara tidak serta secara serampangan kembali pada tradisi karena harus mempertimbangkan kondisi kekinian atau modernitas. Sehingga konsep umum jadi panduan metodologinya yaitu konsep "al-Muhafazhatu 'alal Qadimis Shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah"  yang semakna dengan konsep al-Washl dan al-Fashlnya Abid al-Jabiri.

Tradisi ini menjadi penting di kebudayaan manapun. Al-Jabiri misalnya memandang tradisi Sebagi pilar-pilar persatuan dikalangan masyarakat Arab. Namun ia mengakui dan menemukan fakta bahwa dimasyarakat Arab terjadi keterpurukan kultural akibat kurang memperhatikan aspek tradisinya. Suatu fakta historis bahwa tradisi atau budaya dinusantara mampu diapresiasi dan berjalan beriringan dengan Islam secara damai.
03/11/2018
Muhammad Sawaluddin
Formasi Nalar Kebudayaan Arab al-Jabiri
Nalar Kebudayaan - Formasi Nalar Arab

Istilah “nalar Arab” mempunyai signifikansi pembahasan buku ini dibanding menggunakan kata “pemikiran” (al-fikr). Kata pemikiran lebih mengacu kepada muatan da nisi pemikiran, yakni sekumpulan pandangan dan pemikiran, ideal-ideal etik, doktrin-doktrin mazhab serta ambisi social politik. Sedangkan focus perhatian bukan semata-mata pemikiran, tetapi perangkat yang memproduksi pemikiran. Sesungguhnya ada kebertautan antara pemikiran sebagai perangkat untuk memproduksi pemikiran dan pemikiran sebagai kumpulan pemikiran itu sendiri.

Pemikiran baik dalam pengertian perangkat berpikir maupun produk pemikiran merupakan produk pergeseran dengan lingkungan dimana ia berinteraksi. Dengan demikian pemikiran Arab bukan semata konsep dan pandangan yang mencerminkan realitas Arab, tetapi juga ia adalah produk dan model berpikir yang dibentuk oleh realitas Arab. Terdapat pula kaidah “etnisitas kultural” bahwa seorang pemikir tidak tergolon kedalam suatu kebudayaan tertentu kecuali jika ia berpikir dalam kebudayaan tersebut. Berpikir melalui suatu kebudayaan tertentu artinya berpikir melalui system referensial yang membentuk koordinat-koordinat dasarnya yakni factor-faktor penentu dan pembentuk kebudayaan ini berupa warisan kultural, lingkungan sosial, cara pandang terhadap alam, dunia dan manusia. Dengan demikian batasan awal konsep nalar Arab bahwa nalar Arab adalah pemikiran sebagai perangkat untuk menelurkan produk-produk teroritis yang dibentuk oleh suatu kebudayaan yang memiliki kekhasan sendiri, kebudayaan yang memuat sejarah peradaban Arab, mencerminkan realitas, ambisi masa depan, rintangan yang menghambat kemajuan serta sebab-sebab kemundurannya saat ini.

Sekarang muncul pertanyaan apakah berarti “nalar” tersebut sama sekali tidak mengandung produk pemikiran? Untuk menjawab pertanyaan ini, terbantu oleh pembedaan yang dibuat Lalande antara nalar pembentuk atau aktif dan nalar terbentuk atau dominan. Yang pertama adalah aktifitas kognitif yang dilakukan pikiran ketika mengkaji dan menelaah serta membentuk konsep dan merumuskan prinsip-prinsip dasar. Sedang nalar kedua adalah sejumlah “asas dan kaidah yang kita jadikan pegangan dalam berargumentasi. Bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “nalar Arab” adalah nalar terbentuk yakni sejumlah asas dan kaidah yang dimunculkan kebudayaan Arab untuk mereka yang terkait dengannya sebagai landasan memperoleh pengetahuan atau sebagai system epistemic yang tidak bias mereka elakkan. Adapun nalar pembentuk merupakan karakteristik yang membedakan manusia dengan binatang dan bias dikatakan bahwa seluruh manusia adalah sama. Setiap orang yang terkait kebudayaan tertentu memiliki kekhasan.

Membicarakan nalar Arab merupakan keharusan untuk menjelaskan dan membedakannya dengan nalar Yunani dan nalar Eropa untuk menentukan identitas nalar Arab. Arab, Yunani dan Eropa yang mempratekkan pemikiran rasional filosofis dan bukan hanya berpikir dengawn akal tetapi juga berpikir tentang akal.

Memahami sistem kebudyaan Yunani dalam wacana filosofisnya masih kembali kepada Herclitus dan Anaxagoras. Menurut ahli sejarah filsafat, Herclitus adalah orang yang pertama mengemukakan tentang “logos” atau “akal”. Heraclitus menggagas adanya hukum universal yang mengatur realitas. Akal universal sebagai sesuatu yang mengatur alam dari dalam. Posisi nala ini bagi alam setara dengan posisi jiwa bagi manusia, jika dalam arti esensi yang terpisah dari tubuh, tetapi menjadi landasan bagi seluruh geraknya.

Berbeda dengan Heraclitus, Anaxagoras memandang bahwa tubuh terdiri dari bagian-bagian yang bias dibagi tanpa batas, tetapi mengandaikan adanya bagian terkecil yang tidak bias dibagi. Kekuatan penggerak yang memisahkan antar bagian kemudian mempertautkan yang oleh Anaxagoras disebut Nous atau akal. Akal itu memahami segala sesuatu yang melebur, terpisah dan terbagi serta menebarkan sistem dalam segala hal.

Pemikiran Herclitus tentang logos menjadi dasar filsafat Stoik dan pemikiran Anaxagoras tentang Nous menjadi nalar Socrates kemudian Palto dan Aristoteles. Inti pemikiran Yunani yaitu konsepsi hubungan antara alam dan akal universal. Alam awalnya realitas yang tidak tertata, kemudian masuk kekuatan yangn disebut akal yang mengatur alam. Filsafat modern di Eropa juga berjalan dalam alur ini. Pemikiran Eropa modern menggambarkan akal universal sebagai hukum mutlak bagi manusia. Melebrance berkata “akal yang mengarahkan kita adalah akal universal”. Descartes hadir memisahkan antara nalar dana lam tetapi dipaksa menggabungkannya pada keyakinan dan kehendak ketuhanan. Spinoza mengkritik Descartes yang menyatakan adanya dua substansi sebab tidak mungkin kecuali hanya ada satu substansi. Maka akal dalam alam adalah dua penampakan dengan satu substansi. Semangat yang mendominasi di Eropa bukan hanya menegaskan konfrontasi akal dana lam tetapi juga menemukan kesatuan hakikat.

Persoalan tersebut berusaha dipecahkan oleh Kant yang menurutnya konformitas akal dan sistem natural berjalan diatas kesatuan matematika dan fisika atau bergantung kepada pengalaman akal bukan prinsip fisika. Kant membedakan antara “benda itu sendiri”  dan benda sebagaimana yang tampak dimata kita”. Hegel kemudian menyerang filsafat kritis Kant dan ia memandang sesuatu yang kita ketahui secara rasional bukan semata-mata penampakan tetapi juga benda itu sendiri. Benda itu sendiri bukan dihasilkan melaluoi indera tetapi diperoleh dari akal dan sejarah.
Dari paparan global tersebut, pertama menjustisifikasi adanya nalar Arab. Wacana ini menunjukkan keragaman nalar serta isyarat adanya nalar atau logika yang khas. Kedua paparan nalar Yunani dan Eropa menegaskan keterkaitannya dengan kebudayaan yang menghasilkannya.
Yang mungking dipandang sebagai usur-unsur permanen dalam nalar Yunani-Eropa adalah:
1. Hubungan akal dana lam dipandang sebagai hubungan langsung (dasar cara pandang terhadap wujud).
2. Keyakinan terhadap kemampuan akal untuk menjelaskan dan menyingkapkan rahasia-rahasia alam. (dasar cara pandang terhadap pengetahuan).
Struktur akal yang dibangun Yunani-Eropa tidak ditemukan bahwa tuhan tidak menjadi aspek ketiga yang berdiri secara terpisah dari alam dan manusia.

Ciri nalar Arab Islam adalah relasi antara Allah manusia dana lam. Gagasan tentang Allah memainkan peran “indikatif” dalam akal manusia untuk menyingkap sistem alam , sedangkan alam sebagai petunjuk bagi akal manusia untuk menyingkap Allah dan menjelaskan hakekatnya. Jika konsep nalar Yunani-Eropa berupaya memahami sebab yakni pengetahuan, maka nalar Arab berkaitan dengan akhlak. Dalam pemikiran Yunani-Eropa, akhlak dibangun berdasar pengetahuan, sedang nalar Arab, pengetahuan berdasar akhlak. Dalam istilah Arab, orang yang berakal berarti orang yang mampu menelaah dan berpikir secara menyeluruh. Disebut al-‘aql karena ia mencegah pemiliknya agar tidak terjatuh kepada kehancuran. Al-Hija berarti memahami kesalahan yang berkaitan aspek nilai. Dzihn bermakna kekuatan. Fu’ad berarti menyalakan, belas kasih, kelembutan. Sedangkan alfikr bermakna konseptualisasi terhadap sesuatu yang mengandung nilai. Kata ‘aql banyak berkaitan dengan subjek dan kondisi emotifnya dan keputusan-keputusan yang berkenaan dengan nilai. Memungkinkan dikatakan bahwa nalar Arab diarahkan oleh pandangan normative terhadap segala sesuatu. Pandangan normative adalah kecenderungan dalam berpikir untuk mencari posisi dan letak sesuatu dalam sistem nilai yang dijadikan rujukan oleh pemikiran itu.

Al-Jahid menganggap setiap makna bagi orang-orang non Arab muncul dari hasil pemikiran panjang, sedangkan masyarakat Arab adalah spontanitas yakni cepatnya pemahaman. Sedangkan syahrastani yang menurutnya orang Arab lebih cenderung kepada upaya menetapkan kekhasan sesuatu, hukum substansi dan hakekatnya menggunakan hal-hal ruhiyah.

Konsep sistem pengetahuan yaitu sejumlah konsep, prinsip dasar dan aktifitas untuk memperoleh pengetahuan dalam suatu era historis tertentu, yaitu struktur bahwa sadarnya. Struktur adalah adanya factor permanen dan berubah dalam kebudayaan Arab yang membentuk nalar itu. Banyak hal-hal yang tidak berubah dalam kebudayaan Arab sejak era jahiliyah hingga sekarang yang secara keseluruhan membentuk factor permanen dan selanjutnya menjadi dasar bagi struktur nalar yakni nalar Arab. Hubungan nalar dan kebudayaan sebagai hubungan tak sadar karena yang terlupakan tidaklah sirna tetapi tetap hidup dibawah sadar seperti ditegaskan Freud. Struktru nalar Arab yang dimaksud adalah konsep dan aktifitas pemikiran yang membekali orang-orang yang terkait dengan kebudayaan Arab dan membentuk “ketidaksadaran kognitif” yang mengarahkan pandangan mereka dalam wilayah pemikiran dan akhlak, serta cara pandang mereka terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.

Dalam kebudayaan, waktu atau era tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang didalamnya terjadi pergerakan, tetapi juga terjadi stagnasi gerakan dalam kebudayaan Arab adalah era statis bukan gerakan dinamis. Klaim ini membutuhkan justifikasi memadai, bukankah nahwu, ushul fiqhi, syair telah sempurna dibuat oleh para tokoh diera kodifikasi?

Ringkasan buku BAB I: Nalar Kebudayaan dari buku Formasi Nalar Arab karya Muhammad Abed al-Jabiri.
*Diringkas pada 22 Januari 2016

Rahmatan Lil Alamin
Menjadi Bangsa Rahmatan Lil Alamin


Manusia yang dikatakan sebagai hewan berpikir, makhluk sosial serta mempunyai kelebihan diantara makhluk lain yang diciptakan tuhan. Sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna mempunyai konsekuensi. Konsekuensi sebagai yang niscaya yaitu sebagai hamba dan harus memaksimalkan penghambaannya. Kebenaran yang tidak bisa terbantahkan bahwa kenyataan alam beserta kehidupan bahwa mesti ada yang menciptakannya dan mengatur yang tidak lain adalah Allah Swt. Dia adalah pencipta segala sesuatu dan Dia tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah dalam hal ini Dia yang Maha Esa, tidak wujud selain dirinya dan tidak yang serupa dengan serta mengatur seluruh alam. Aristoteles dari proses intelektualnya mengindentifikasi mesti ada penggerak kemudian ia sebut penggerak yang tidak bergerak.  

Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan memberikan kedudukan terhormat kepadanya di hadapan ciptaan-Nya yang lain. Sehingga sepantasnya manusa menjadi hamba hamba dan menjalankan segala kewajiban dan tiada lain yang diharapakn kecuali keridhaan Allah Swt. Segala aktivitas manusia sebisa mungkin hadir dalam hati dan tertuju kepada-Nya. Tuhan sebagai pembimbing menurunkan al-Quran sebagai pedoman mengakarkan manusia dalam kehidupannya senantiasa mengingat-Nya. Sebagai hamba, manusia harus mengesakan Tuhan dan hanya bergantung kepada-Nya, tidak menyekutukan dan menyerupakannya dengan yang lain.

Manusia mempunyai kelebihan diantara makhluk lain, tetapi antara manusia dengan manusia lain atau antara individu yang lain tidak ada perbedaan dan semua sama kecuali ketakwaannya kepada Allah. Manusia hendaknya menjalin hubungan yang baik antar sesamanya dan tidak saling membedakan antara satu dengan yang lain. Manusia hidup di dunia ini tidak sendirian tetapi ia makhluk sosial yang tidak bisa melangsungkan hidupnya tanpa selainnya. Ia hidup dalam sebuah komunitas bernama masyarakat dan wilayah yang disebut negara. Kenyataan demikian, perkenalan (saling menyapa, tolong-meolong) menjadi penting. Realitas kehidupan pula dalam bernegara khususnya di Indonesia, sebuah negara yang plural (bhineka tunggal ika). Sebagimana pentingnya melihat persamaan agar tidak terjadi konflik antar sesama, menjadi sangat diperlukan kesadaran dan sikap kebangsaan yang mempersatukan kita bersama. Persaudaraan atau persatuan inilah wujud dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah yang merupakan representasi terwujudnya keadilan sosial.

 Konsekuensi karena adanya kelengkapan (kesempuraan) dirinya yang diberikan oleh Allah sehingga dijadikannya khalifah dibumi mempunyai kewajiban ataupun tanggung jawab. Juga menjadi akibat dari kesanggupannya menanggung amanah tersebut, yang sebelumnya beberapa makhluk ditawari amanah tetapi enggang menerimahnya. Al-Qur’an hadir membicarakan hubungan yang utuh antara manusia, berbagai makhluk hidup serta alam fisik dan metafisika. Isi dan kandungannya mejadi pedoman dan cara pandang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti. Memberikan informasi tentang jalan yang paling lurus dalam keseimbangan antara perseorangan dan sosial, serta mempersatukannya dengan tali hubungan yang kuat. Disamping itu juga, al-Qur’an hadir mebicarakan konsep alam, mulai dari relasi manusia dengan alam, sampai tata kelola alam dalam menjaga keseimbangan alam dari berbagai aspek. 
Islam Rahmatan Lil Alamin
Hal yang dapat kita temui adalah apa yang dalam al-Qur’an sebagai konsep rahmatan lil alamin. Sifat rahman Allah dipahami oleh ulama, itu diberikan kepada seluruh makhluk didunia ini. Artinya menjadi pemahaman bagi kita untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, menyayangi dalam menjaga keseluruhan elemen alam agar harmonis dan tidak terjadi kekacauan. Tujuan itu juga merupakan sisi timbal balik terhadap manusia, agar ia bisa melangsungkan hidupnya demi pengabdian kepada Allah swt.

Rahmah berasal dari bahasa Arab ayang asal katanya rahima berarti menaruh kasih atau biasa dipakai kata simpati atau empati. Konsekuensi dari simpati adalah adanya sikap merawat, menjaga. Rahmatan lil alamin dapat dipahami untuk manusia sebagai sikap menyayangi yang terlihat dari sikap menjaga alam. Tidak hanya Karena agama menganjurkan demikian, tetapi memang punya manfaat dan pengaruh luar biasa terhadap keberlangsungan hidup manusia juga. Tidak bisa dipungkiri pula bahwa alam dalam pengertian khusus berupa tumbuh-tumbuhan, hewan tanah, air dll itu diciptakan untuk manusia. Selain sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup, alam juga merupakan ayat Tuhan yang harus dipahami sebagaimana kita memahami al-Quran. Dari pemahaman itulah akan terwujud keimanan yang mantap kepada Tuhan dan kemantapan diri sebagai manusia yang harus menyebarkan kedamaian di muka bumi. Dari pemahaman inilah akan terbentuk suatu gambaran menyeluruh terhadap alam, bahwa Tuhan menciptakan alam ini dengan maksud-maksud tertentu yang harus kita cari dan teliti. Pencarian makna alam inilah yang melandasi setiap kegiatan penelitian ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan. 

Allah swt. telah mengingatkan bahwa seandainya bukan Karena manusia sendiri yang melakukan kerusakan dibumi niscaya akan diturunkan rahmat. Artinya rusaknya manusia akibat dari pengrusakaannya terhadap alam. Memang ada keterkaitan ibarat lingkaran kehidupan dan demikianlah adanya yang niscaya karena esensinya merupakan ciptaan. Dari kehidupan Rasulullah Saw. kita perlu bertanya ketika beliau ke Thaif (dan beberapa kisah lainnya) dan dilempari batu oleh masyarakat disana yang justru alam lebih tepatnya gunung hadir membela Rasulullah bahwa ada apa dibalik itu. Satu sisi memang Rasulullah dijaga dan sisi lain dan memang adanya beliau tidak hanya menjaga hubungan sesama manusia tetapi ia juga menjaga alam secara keseluruhan  sehingga alam pun respek kepadanya.

Konsep rahmat lil alamin juga perlu menjadi semangat dalam kehidupan bernegara serta masa depan manusia secara global. Dasarnya pun jelas, bahwa agama tidak hanya soal ibadah ritual tetapi juga kehidupan sosial. Terlihat dari ajuran memperhatikan anak yatim, konsep zakat dalam hal keadilan ekonomi, serta perintah Wata’awanu ‘alal birri wattaqwa” yang jelas perhatian dalam stabilitas sosial. Dapat ditemui sebagai hal yang sama semangatnya dalam Pancasila. Bahwa Persatuan Indonesia tidak hanya dilihat dari segi manusia, sosial-budaya, tetapi mencakup geografis lebih jelasnya alam Indonesia. 


REUNI AKBAR ALUMNI PONDOK PESANTREN DAARUL MU'MININ TAHUN 2018

Alumni Daarul Mu'minin
Add caption



Alumni tahun 2013 Bersama Gurunda pada
REUNI AKBAR ALUMNI PONDOK PESANTREN DAARUL MU'MININ TAHUN 2018







Memaknai Idul Fitri
Memaknai Idul Fitri
Memaknai Idul Fitri dan Meneguhkan Jati Diri - Suatu masa serta keadaan tertentu yang pada saat itu berada pada titik pemahaman terhadap sesuatu didalamnya terdapat misteri. Keadaan tersebut tidak dengan sendirinya, mesti melalui proses untuk mencapainya. Dedaunan, pepohonan serta burung beterbangan seolah tertawa tersenyum memberi isyarat kepada manusia (yusabbihu lillahi maa fissamaawaati wa maa fil ardh). Alam semesta dengan gerak serta fenomenanya menjadi tanda (sanuriihim aayaatinaa fil aafaaqi wafii anfusihim). Tanda yang semoga sampai pada kemampuan memahami makna serta pesan-pesan yang bersamanya. Manusia pun senantiasa terus bertanya akan dirinya serta pada dasarnya rindu kepada asalnya. Semua itu bagi beberapa manusia terdapat dinding pemisah, tapi sebagian yang lain mulai tersingkap secara perlahan yang tidak lain melalui proses secara umum harus aaminuw wa'amilushshalihah. Karena banyaknya penghalang yang menutup berupa kegelapan akibat dosa.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki sebisa mungkin terus diasah agar tajam memahami tanda-tanda yang ada. Sehingga manusia beserta potensinya ibarat suatu perjalanan yang sebisa mungkin terus mengalami peningkatan. Perjalanan secara umum terbagi dua yaitu perjalanan lahir dan batin. Perjalanan lahir bagaimana lahiriah termanifestasi dalam ibadah lahiriah, bagi batin berupa tadabbur dan tadzakkur. Akal dan hati yang semakin mampu memahami dan merasakan hembusan angin, tumbuh-tumbuhan serta pergantian siang dan malam. 

Hal ini tidak lain caranya melakukan instrospeksi diri, yaitu melakukan internalisasi atau sikap kedalam. Dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam al-Ghazali memberikan enam tahap instrospeksi diri antara lain, Musyarathah yaitu syarat-syarat yang membimbing, Muraqabah (pengawasan diri), Muhasabah (Instrospeksi diri), Mu'aqabah (penekanan atau penghukuman seperti berpuasa agar tidak bergantung pada materi), mujahadah (melawan hawa nafsu) serta Mu'tabah (menegur diri). Melakukan kontemplasi, atau bertafakur serta instrospeksi diri membuat tabir pelan-pelan terbuka. Makna-makna akan tampak, suasana damai dalam keadaan fitrah atau kesucian. Ibnu 'Arabi pun juga menekankan instrospeksi diri atau melakukan sikap kedalam karena manusia menerima pancaran cahaya yang lebih diantara ciptaan yang ada. Al-Ghazali sebagaimana Ibnu 'Arabi dalam konteks insan Kamil bahwa yang mampu memahami asma Allah beserta ciptaannya (wa fii anfusikum afalaa tubshiruun (dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?)). Maka akan lahir pengetahuan dan pengalaman spiritual. Pengetahuan yang lahir karena penyingkapan (musyaahadah) tiada lain karena penyucian diri. Penyucian mengantar pada peningkatan kualitas diri dari yang awalnya masih nafsul lawwamah akhirnya sampai pada nafsul muthma'innah.

Mencapai derajat fitrah kesucian tentunya perjalanan panjang, tetapi juga menjadi dambaan setiap insan. Sebagaimana pemburu identitas, akan banyak jalan yang ditempuh untuk mengkonstruk dan melekatkan suatu identitas pada dirinya. Internalisasi menjadi strategi menjaga dan merawat identitas tersebut. Sosialisasi atau interaksi secara damai (bil hikmah) sebagai bentuk pelestarian, karena fitrah kesucian mesti dijaga. Melihat sejarah perjalanan manusia, pemikiran dualistis, hitam putih tidaklah tepat. Manusia yang awalnya melangit kemudian kembali pada yang azali, sebetulnya prosesnya adalah pembumian yang didalamnya proses memahami ayat-ayat Tuhan serta memanifestasikannya.
Bulan Ramadhan dalam prosesnya bagi yang senantiasa memanfaatkan waktu yang ada sebagai proses pembersihan, penjagaan serta merangkai tangga menuju derajat takwa, kesucian. Bersuci menurut imam al-Ghazali terdapat empat tingkatan yaitu menyucikan lahir dari hadats, menyucikan anggota tubuh dari perilaku dosa, menyucikan hati dari akhlak tercela dan menyucikan batin dari selain Allah swt. Maka dipahami bahwa pengendalian diri lewat puasa dan lainnya merupakan jalan-jalan tersebut. Implikasinya juga bahwa Idul Fitri bermakna kesucian, kemenangan serta keselamatan. Karena jihad yang sesungguhnya melawan hawa nafsu telah berhasil lewat puasa. Ibadah puasa ini hakekatnya proses pencerahan diri yang diharapkan mampu menghasilkan kesalehan sosial serta sampainya pada titik fitrah kemanusiaan yang suci. Kemanusiaan yaitu manusia yang senantiasa berdamai lewat saling memaafkan.

Akhirnya sampai pada Idul fitri, Fitri atau fitrah bermakna jati diri yang berimplikasi pada makna asal-usul. Maka at-turats (tradisi/asal kejadian) merupakan jati diri, identitas serta asal-usul dengan nuansa kesucian yang seirama dengan kebaruan (tajdid). Makna asal-usul kejadian sifatnya azali bahwa selalu ada ukuran serta bahan yang pas dan terseleksi dengan teliti. Karenanya merawat yang asal (at-turats) sejatinya menjaga fitrah kesucian, sehingga senantiasa dalam keadaan baru (Tajdid) atau mendambakan kebaruan adalah dengan proses mencapai fitrah. Konsekuensi dari kesucian adalah keindahan, maka kembali ke fitrah artinya harus tercipta keindahan. Keindahan nantinya senada beriringan dengan kedamaian yang harus pula berefek pada tercipta akhlakul karimah serta hadirnya makna ketuhanan bahwa segala ciptaan Allah Swt. senantiasa indah dan harmonis, tidak ada cacat sekalipun. Maka sejatinya kedamaian juga azali, alih-alih Islam pun yang salah satu maknanya adalah kedamaian.

Kelihatan seperti perputaran, kemenangan karena kedamaian dalam lingkarannya berupa kesucian (tidak ada noda berupa amarah / konflik). Maka dengan mudah secara perlahan realitas dapat dipahami dan disaksikan (musyaahadah) karena belenggu mulai menghilang, keimanan bertambah mantap. Damai / tidak ada konflik karena puasa telah menjadi latihan pengajaran untuk saling memahami. Hubungan sosial menjadi erat tercipta kedamaian dalam lingkungan sosial juga rasa damai bagi pribadi masing-masing. Jiwa yang damai, tenang senantiasa terpelihara akan sampai pada (Yaa ayyuhannafsul muthma'innah).
Mencari Makna
Mencari Makna dalam Pergulatan Modernitas
Mencari Makna dalam Pergulatan Modernitas -Dalam wacana intelektual telah terjadi dialektika yang serius tentang berbagai hal mengenai kehidupan. Namun pada intinya ditemukan bahwa mereka yang turut berpastisipasi aktif dalam perdebatan tersebut kebanyakan mengakui bahwa kehidupan bukan sesuatu yang ada dan tetap, melainkan sesuatu yang terus mengalami perubahan. Katankanlah yang ada terus berproses menuju titik ideal atau kesempurnaan. Sehingga kehidupan sebagai perjalanan yang terus mengalami perubahan. Sekitar tahun 501 SM, muncul pemikir yang dikenal dengan Herakleitos yang berpendapat bahwa seluruh alam semesta terus mengalami perubahan dan proses menjadi yang berlangsung terus menerus. Tetapi ia pun tetap mengakui ada hakikat yang abadi, ia ada selamanya, terus menerus, dan selalu menjadi selamanya yang tidak akan padam, didalamnya ada kehidupan. Demikian al-Farabi dengan pemikirannya tentang emanasi dan pandangannya bahwa benda pada awalnya bersifat potensial kemudian bereksistensi secara aktual berimplikasi pada pengakuan adanya proses yang dinamis menuju eksistensi bukan sesuatu yang statis. Dari proses yang dinamis tersebut al-Farabi mengakui adanya gerak dan sumber penggerak. Ruh adalah penggerak lingkungan dan intelek adalah pemberi kekuatan gerak pada ruh. Ruh bergerak kepada kesempurnaan sesuai dengan kehendak intelek (Soleh, 2013: 124).

Tidak heran ketika alam, zaman atau kehidupan terus mengalami perubahan yang pada saat ini merupakan zaman modernitas yang merupakan akibat dari perubahan tersebut. Modernitas lahir bukan hanya keniscayaan sebagai akibat dari sifat zaman yang terus berubah, tetapi juga merupakan hasil dari produk dan usaha pemikiran seperti yang disebut diatas. Yang kedua ini dikenal dengan abad pencerahan eropa atau revolusi perancis. Ditengah arus modernitas, kehidupan mengalami perubahan sangat besar yang sangat mempengaruhi pola hidup dan pemikiran manusia yang hidup pada zaman itu. Dunia modern sangat penuh dengan materialistism dan pragmatism, serba rasional dan efektif. Hampir segala bidang aspek kehidupan dilihat sebagai sebuah fenomena dan selalu ingin diobjektifikasi dalam arti material. Modernitas dengan segala kejutannya berupa akses informasi serba cepat, industrialisasi mewarnai kehidupan sosial politik sampai kecenderungan pada solusi berbasis mesin, mengakibatkan makna seakan hilang dan tak terpikirkan dari sebagai anak zaman ini. Arus rasionalitas yang turut mewarnai pemikiran dan tingkah laku manusia modern justru memunculkan masalah berupa perilaku irrasional (bertentangan dengan realitas yang dianggap benar secara moral maupun hukum). Kecemasan dan ketenangan jiwa yang dialami oleh masyarakat modern membawa implikasi yang disebut substantif destruktif, yaitu suatu tindakan yang mengarah pada tindakan negatif (Abdullah, 2006: 3).. Kehidupan sosial kultural pun turut menjadi bulan-bulanan penghancuran dari modernitas. Dari kehidupan sosial yang akrab partisipatif serta bekerja secara kolektif, kini berubah pada individualitas. 

Berbagai permasalahan tentang modernitas sikap menutup diri bukanlah sikap yang bijak. Menutup diri atau menolak modernitas merupakan ketidakterimaan pada zaman yang memang demikian adanya sebagai efek perubahan. Tidak perlu takut dengannya tetapi tidakpula pada ketundukan absolut. Diperlukan ideologi atau sikap menempatkan makna atau spiritualitas di tengah arus modernitas. Atau mungkin menghidupkan sisi tradisi dan tidak perlu “malu” pada keputusan tersebut. Lalu kita pun bertanya, manakah sebenarnya sikap yang dianggap terbelakang antara yang berpegang pada kultur tradisional atau keyakinan penuh terhadap modernitas. Padahal termasuk karakteristik akal primitif adalah keyakinan buta pada hasil-hasil dari aktivitasnya dan ini dipandang sebagai hakikat dari apa yang yang dilihatnya sebagai hakikat (Al-Fakhuri & Al-Jurr, 2014: 5). Modernisme sangat identik dengan ciri tersebut, sehingga sikap “memuja modernism” sungguh sangat terbelakang dan primitif. Diketahui dalam sejarah perjalanan manusia ada masa dimana perilaku tunduk secara berlebihan dari hasil produknya sendiri identik dengan budak. Ironis ketika berada dalam lingkaran budak dari zaman yang ikut dan larut begitu saja begelimang materi. Dalam narasi modernitas, manusia memang diberi ruang seluas-luasnya untuk berekspresi, tetapi keluasannya itu justru menjadikannya sebagai berhala bagi dirinya sendiri (Riyadi, 2014: 192). 

Meminjam istilah Rollo May “manuia dalam kerangkeng”, merupakan penyakit manusia modern yang menurut Achmad Mubarok, manusia modern seperti itu sebenarnya manusia yang sudah kehilangan makna, manusia kosong (Abdullah, 2006: 57). Dihadapan nalar modern, kata, bahasa dan narasi telah kehilangan “makna simboliknya”. Kebenaran yang terkandung dalam kata, Bahasa atau narasi yang dulu bisa saja dianggap sebagai objektif dan mutlak kini maulai dipertanyakan (Riyadi, 2014: 212-213). Baru sekitar abad 20 justru ditengah mendominasinya industrialisasi atau moderisme bermunculan sikap mempertanyakan apa yang ada atau mempersoalkan tentang modernitas. Tokoh atau pemikir mulai mempertanyakan kehidupan serba materi ini dan kembali mencari sisi makna dari kehidupan. Walaupun sebenarnya jauh sebelum itu, di Yunani kuno, Plato sudah memperkenalkan ide atau makna menjadi sesuatu yang ideal bagi manusia. Schopenhauer misalnya yang pada masanya mulai prihatin terhadap arus modernitas yang mengancam kehidupan manusia. Dia menolak Hegel yang baginya tidak realistis karena merasa optimis bahwa umat manusia sedang maju, padahal manusia benar-benar tertipu oleh janji-janji manis modernitas (Riyadi, 2014: 89). Ia mengakui ada sisi makna manusia yaitu intuisi yang disebutnya sebagai kehendak metafisis. Tetapi iapun juga terjebak dan justru menghancurkan kemanusiaan, karena ketika kehendak hilang sebagai penggerak manusia maka sifat kemanusiaan pun hilang. Lebih lagi ketika Nietzche dengan lantang yang diselimuti kekecewaan menyuarakan “Tuhan telah mati”. Yang dilakukannya tersebut merupakan bentuk kekecewaan dan kritik terhadap modernitas yang menghilangkan sisi makna atau spiritual.

Dari kekecewaan yang bermunculan yang melatari sikap mempertanyakan tersebut Wilhelm Dilthey mencoba mencari makna dan mencoba memahami kehidupan khususnya sosial historis secara interpreatif. Ia menganggap produk atau fenomena merupakan hasil ungkapan subjek. Mungkin tidak terlalu buruk ketika Wilhelm Dilthey menyebut sebagai Ruh Objektif. Ruh objektif yang dimaksud adalah fenomena atau yang ada merupakan sebuah hasil ungkapan dari proses subjek yang dieksternalisasi. Konsep ini cukup membantu dan membuka jalan untuk mencari makna, bahwa ada ruh ideal yang terselimuti oleh ruh objektif yaitu ruh pada masing-masing subjek. Sayyid Husein Nasr memperkenalkan pandangan bahwa pencarian spiritual manusia merupakan kebutuhan natural. Sehingga perilaku harusnya berdasarkan hikmah yaitu yang diilhami oleh nilai-nilai spiritual. Karena kesadaran spiritual dan berusaha mencari makna akan membantu manusia menemukan makna atau wujud dibalik empiris-materialisme. Manusia tidak diciptakan dibumi untuk mendapatkan kenikmatan semata, tetapi ia harus melewati fase-fase perkembangan spiritual yang memungkinkannya mendapatkan bagian spiritual yang baru (Al-Fakhuri & Al-Jurr, 2014: 333). 

Dalam tradisi hermeneutik bukankah makna merupakan bagian yang lain yang terselubung dari teks, sehingga cenderung dikatakan bahwa tradisi merupakan antitesa dari modernitas. Sangat aneh ketika keduanya dianggap berantitesa atau bertolak belakang, padahal keduanya merupakan dual hal dengan intensitas yang sama yaitu zaman, yang pertama datang lebih awal dan yang kedua belakangan dan ia ada dimasa sekarang. Yang memungkinkan adalah memadukan diantara keduanya, makna mesti ada dibelakang teks atau tradisi terselubung dalam modernitas. Sangat relevan ketika Aqil Siradj menyuarakan kosmopolitanisme dalam merespon ketegangan tersebut. Kosmpolitasnisme sendiri bermakna sikap terbuka untuk bersedia berinteraksi dan menyerap berbagai macam manifestasi kultural dan wawasan keilmuan atau keseimbangan antara kecenderungan normatif dan kebebasan berpikir semua warga masyarakat (Aqil Siradj, 2014: 203-204). Makna dalam arti luas tidak lagi dipahami sebagai tradisi tetapi bagian dari modernitas yang mesti dicari dan diungkap. Pada kasus ini meninggalkan modernitas juga bisa disalahkan, karena modernitas tidak sepenuhnya salah walaupun berbagai persoalan yang dihasilkannya sebagaimana yang telah disinggung lebih awal. Tepatlah ketika Hassan Hanafi yang menganggap bahwa 
“ pada zaman modern, yang dicari bukanlah model manusia yang dapat menunjukkan kecongkakan diruang hampa, bukan pula manusia yang merasa dirinya tidak berarti dibawah kolong langit yang luas ini. Yang dicari adalah manusia yang dapat memperkuat kepercayaan dirinya sendiri, menggunakan kemampuan intelektual, mempertebal rasa tanggung jawab sosial, merealisasikan pesan-pesan moral, mempertebal kesadaran kerakyatan, dan menangkap dinamika sejarah.” (Hanafi, 2010: xxx)

Quraish Shihab mengibaratkan galobalisasi-modernitas berdasar pada hadis Nabi Muhammad saw: “Apabila para penumpang membiarkan mereka melubangi perahu, maka mereka semua akan binasa (tenggelam), tetapi bila penumpang yang di bawah dicegah, maka mereka semua akan selamat.”.
Dewasa ini di era globalisasi ketika dunia diibaratkan telah menjadi “desa kecil” atau dalam istilah Nabi Muhammad saw. sebagai kehidupan dalam suatu perahu, alangkah pentingnya kita bekerja sama menyelamatkan perahu yang kita tumpangi bersama (quraishshihab.com). 

Dengan kata lain,diakui secara sadar bahwa krisis modern yaitu ketidakberdayaan manusia bermain dalam pentas ruang hampa modern sudah kehilangan makna, manusia kosong. Seperti yang disebutkan bahwa kehidupan terus berubah, sehingga sikap pasif sangatlah tidak dibutuhkan ditengah arus begitu cepat, yang diperlukan adalah menampilkan makna dengan sikap dinamis. Bahwa makna dicari dan ditemukan dari upaya-upaya kesadaran akan pentingnya kerja kolektif. Serta sikap menggali dan memahami proses historis karena merupakan makna dari teks yang disebut modernitas. Perlu diingat salah satu cita-cita modernitas ialah melakukan perbuhan secara menyeluruh. Momeng ini sangat tetap untuk mencari makna, menampilkannya dan mengiternalisisasikan pada tiap-tiap subjek kemudian memperbaharuinya sehingga tidak lagi terselubung dari penghancuran modernitas. Karena makna tidaklah hilang, makna bukanlah tidak ada dibalik teks, tetapi ia tersembunyi dibalik teks, ditengah kesibukan formalitas empiris.

Subscribe to: Comments ( Atom )

ABOUT ME

MUHAMMAD SAWALDDIN
Mahasiswa Sastra Asia Barat Universitas Hasanuddin angkatan 2013. Alumni Ponpes Daarul Mu'minin. 
Read more >

Fans Page

LATEST POSTS

  • Islam Nusantara dalam Wacana
    Suatu wacana, konsep ataupun gagasan pada awalnya akan terjadi diskursus. Diskursus terjadi dalam kaitannya untuk memperjelas kekaburan. Is...

Categories

Artikel Budaya Catatan Desain Filsafat Galeri Media Pemikiran Sastra

About Me

Muhammad Sawaluddin
View my complete profile

Flickr

About

Copyright 2018 Muhammad Sawaluddin.
Template by OddThemes